CERPEN:Hakikat Sebuah Cinta | Part#18
Dunia mengenalku sebagai wanita yang pandai tertawa, wanita yang selalu bisa meredam ego dengan "Legowo" yang dipaksakan. Namun, di hati yang paling dalam, aku bukanlah wanita seperti itu. Itu hanyalah kulit luar, sebuah topeng untuk bertahan hidup di tengah drama manusia yang semakin memuakkan. Sejujurnya, aku sudah mati rasa dari sekian banyaknya laki-laki yang aku kenal, aku tidak melihat ketulusan dihatinya. Aku telah menutup pintu bagi siapa pun yang datang dengan kemunafikan dan banyaknya drama manusia adalah alasan mengapa aku lebih suka sendiri. Mungkin jika sekilas orang mengenalku sebagai wanita ceria, namun dibalik itu ada luka yang tak seorangpun tahu obatnya. Namun, di Bukit Tanjung ini, dinding pertahananku luruh. Di sini, aku bukan lagi wanita yang harus menampilkan senyum demi apresiasi orang lain. Aku hanyalah seonggok jiwa yang lelah, merindukan tepukan di bahu dari sosok yang pernah membawa ketenangan jiwaku dibukit ini. Tapi di tengah kekacauan batin ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada suara yang tidak meminta perhatian, tidak mencari simpati, dan tidak menuntut apa-apa. Seseorang datang bukan dengan rayuan, melainkan dengan pemahaman yang menghujam tepat ke jantung lukaku. Rasa sakit itu mengajarkanku untuk tidak menjadi perempuan yang sama lagi. Dia tidak memujiku seperti yang lain, dia justru membaca 'isi hati' yang selama ini kurahasiakan. Dia mengerti bahwa jika aku adalah api yang membakar, maka hanya mereka yang mengerti dan memahami isi hatiku yang bisa duduk di dekatku tanpa terbakar. Dia melihat dibalik topeng yang kupakai, memahami bahwa wanita seperti diriku tidak butuh kata-kata manis aku hanya butuh dimengerti. Dia tidak memberiku bunga yang indah, tapi dia memberiku akar yang kuat agar aku tidak mudah tumbang. Kini, setiap kali aku merenung, aku tidak lagi hanya merindukannya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah ada orang lain di luar sana yang sedang menatap arah yang sama denganku? Seseorang yang memilih jalan yang sama denganku, 'tidak banyak kata-kata', untuk menghargai luka yang kupendam.
Jemariku yang tadinya gemetar ingin membalas pesannya, kini terdiam. Aku memilih untuk tetap diam, menanti apakah keheningan ini akan membawa jawaban yang lebih jujur daripada sekadar komunikasi yang dipaksakan. Jujur saja, terkadang dia mengirim pesan kepadaku tapi tidak pernah kubalas. Namun di sisi lain, dia sosok yang tidak aku ketahui latar belakangnya dan dari mana asalnya, begitu memahamiku. Seolah ia bisa merasakan apa yang sedang kupendam sendirian.
"Ya Allah,,, jika engkau tidak mengantikan dengan yang lebih baik, dan jika sendiri adalah yang terbaik untukku maka matikanlah rasa ini untuk mencintai ciptaanmu yang kini sedang kurindukan"
Komentar
Posting Komentar