CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#2


Baru kali ini aku menemukan pria kampret! Yang bikin aku emosi plus tersenyum-senyum sendiri, biasanya banyak pria inbox. Hai cantik boleh kenalan? Nama kamu siapa? Kamu orang mana? Dek? Lagi ngapain? Aku ganggu nggak? Yang bikin aku muak! Dan pengen muntah karena aku sering mendengar kalimat itu. Tapi pria ini berbeda dia tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali, setiap kalimat yang ku ucapkan di inbox dilempar kembali olehnya. Biasanya aku malas ngeladenin semacam ini tapi kenapa aku mendadak ingin tahu siapa dirinya? Whats happen??? Apa yang terjadi pada diriku? 

Tak terasa waktu sudah malam 23.45 aku lelah aku pengen tidur, esok harinya aku berangkat kerja aku menjadi ibu sekaligus ayah untuk anakku. 

"Terimakasih sudah kuat bersama ibu ya nak, meskipun ibu sakit, kamu kuat kamu lahir kedunia ini dengan sempurna maafkan ibu"

Aku memang tidak seberuntung wanita lain, tapi wanita lain belum tentu sekuat aku. Saat aku ngedumel tiba-tiba hapeku bergetar, satu pesan muncul dari tiktok rupanya itu dari pria asing semalam.

Pria asing: "Hanya orang biasa. Memangnya kalau tahu namaku, bakal berubah sesuatu?"

Rupanya inbox ini balasan ketika semalam aku bertanya 'kamu siapa' aku tanya kapan? Dia balasnya kapan? Lalu aku balas.

Aku: "Memangnya kalau orang biasa nggak punya nama?"

Pria asing: "Ya punya lah"

Aku: "iya siapa?"

Pria asing: "Kalau pengen tau lanjut WA"

Aku: "disini kan bisa"

Pria asing: "Nggak mau ya sudah"

Aku: "Oke"

Aihsss, pria ini sangat menyebalkan kenapa dia cuek banget tidak seperti pria lain, biasanya kalau aku cuek pria lain pada memelas mohon-mohon kenapa ini tidak? Aku mematikan layar ponsel dengan kesal. Siapa dia? Beraninya dia menutup percakapan begitu saja? Biasanya, pria-pria lain akan mengirim pesan panjang lebar, memohon-mohon, atau setidaknya mencoba merayuku lebih keras saat aku mulai dingin. Tapi dia? Dia justru pergi saat aku mulai ingin tahu.

Tak terasa hari sudah sore, kini saatnya aku pulang dari tempat kerjaku. Perempuan lahir, kerja, menikah, hamil, melahirkan, jadi janda, kerja banting tulang, mati! Mungkin pemikiranku ini bodoh, karena aku terlalu lelah menjalani kehidupan ini sendiri yang penuh dengan kepalsuan. Pada malam harinya ada gejolak aneh di dadaku, bukan rindu bukan pula cinta, tapi rasa penasaran. Ah, mungkin dia cuma sok jual mahal agar aku makin penasaran, namun malam semakin larut. Bayangan kata-katanya kembali berputar dikepalaku. 'Kalau pengen tahu lanjut WA'. Kalimat sesederhana itu kini terasa seperti tantangan, aku bukan wanita yang suka basa-basi. Jemariku gemetar sedikit saat mengetik angka-angka itu (nomor WhatsApp ku) Bukan karena aku ingin mengenalnya, tapi karena aku ingin memastikan satu hal, bahwa dia sama saja dengan pria lain yang akan langsung berubah sikap begitu mendapatkan nomor pribadiku? Tanpa pikir panjang aku kirim nomor WhatsApp ku.

​'Ini nomor WA ku (083811172006) ingat jangan disebar'
Aku menekan tombol send, sesaat setelah pesan itu terkirim, hatiku berdegup kencang. Entah apa yang sedang aku lakukan, biasanya jika ada pria yang tidak aku kenal aku tidak berani memberikan nomorku tapi kenapa ini aku berikan begitu saja? Aku tidak bangga disukai banyak laki-laki, aku lebih bangga dicintai satu laki-laki yang tidak mencintai bayak wanita. Kenyataannya membangun ulang kepercayaan diatas trauma itu bukan hal yang mudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#1

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3