CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#8
Setelah pertemuanku dengannya itu aku seperti merasa telah kehilangan sesuatu 'tidak memiliki apapapun tetapi merasa kehilangan' entah apa itu aku sendiri tidak mengerti dangan apa yang aku rasakan, hampir satu bulan lebih aku tidak mendengar kabarnya lagi memang dia tidak seperti pria lain yang kebanyakan membanjiri kolom komentarku saat aku membuat postingan atau pun 'quotes' dia lebih memilih DM tapi akhir-akhir ini tidak ada satupun DM masuk darinya bahkan saat kondisiku yang paling rapuh, aku tidak sedang berusaha menunjukkan sisi rapuh yang kumiliki.
Namun malam ini 23.29 WIB hatiku benar-benar gelisah begitu hebat, aku memang butuh ''kehadiran'' sosok yang bisa membimbingku dan menuntun langkahku sedikit demi sedikit tuk menghapus lukaku. Cinta seringkali bukan soal ingin "memiliki" melainkan ingin di mengerti. Lalu siapakah didunia ini orang yang dapat mengerti akan diriku tanpa memandang status sosialku? Mengapa aku harus merasakan sakit sesakit ini.
Apakah sosok orang baru yang hadir didalam hidupku itu bentuk dari sekenario Tuhan sebagai jodohku, dengan memperlihatkan tanda-tanda kehadirannya atau sebagai luka lagi. Aku berharap perasaanku ini bukan sekedar angan-anganku. Aku ingin apa yang aku rasakan berubah menjadi sosok dalam wujud nyata yang bisa ku lihat, ku ajak bicara, bersenda gurau dengannya. Menjadi tempat penghibur disaat hatiku sedih dan membutuhkan seseorang yang mencintaiku dengan setulus hati.
Usiaku memang tergolong masih muda, tapi disisi lain aku sudah tidak muda lagi karena aku sudah menjadi ibu sekaligus ayah untuk buah hatiku. Aku tidak ingin mengulang harapanku aku tidak berharap lebih kepada orang baru yang hadir didalam kehidupanku berikutnya, atau melambungkan mimpiku lebih jauh, aku tidak ingin terjatuh kedalam jurang yang lebih dalam lagi. Aku rasa, aku memang tidak berhak menikmati kebahagiaan di dunia, ada titik dimana aku harus mati rasa. Bahkan dorongan tidak ingin menikah lagi begitu kuat, dikamarku yang nyaman ini tidak ada tempat untukku berbagi cerita tuk mencurahkan segala isi hatiku. Hanya linangan air mata berbalut kesedihan, dalam keheningan sepertiga malam.
"Ya Allah, aku tahu ini adalah getaran rasa cinta yang Engkau titipkan sebuah getaran yang digetarkan oleh jiwa yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagi raga, entah di mana dan siapa sebenarnya dirinya. Ia hadir bukan melalui sapaan bibir atau tatapan mata, melainkan dalam bentuk rasa yang menyusup sunyi di antara detak jantungku.
Biarlah getaran ini menjadi saksi, bahwa meskipun aku masih meraba dalam gelap dan hanya mengenalnya lewat harapan dan impianku yang Engkau sambungkan ke jiwaku. Jadikanlah rasa ini sebagai jembatan yang jujur, jika memang waktunya tiba untuk raga kami bertemu. Bukakanlah pintu hatiku tanpa harus ada paksaan atau drama yang melelahkan. Namun jika ini hanyalah persinggahan rasa sesaat untuk mendewasakan ku, maka cukupkanlah aku dengan penerimaan, agar tidak ada lagi rasa trauma. Aku sering bersembunyi di balik senyum dan tawa agar orang lain tidak melihat retakan di hatiku. Tapi Engkau tahu, Tuhan, bahwa aku sedang menunggu seseorang yang mampu membaca diamku tanpa perlu aku jelaskan. Jika memang suatu saat kami dipertemukan, biarkanlah itu menjadi pertemuan yang sederhana, di mana aku tidak perlu lagi berpura-pura. Namun jika memang rasa ini hanya untuk mendewasakanku di tengah kesepian, maka ajarkan aku untuk menerimanya dengan ikhlas, agar aku tidak lagi merasa gagal menjadi manusia."
Komentar
Posting Komentar