CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#16
Aku tidak buta dan aku tidak tuli, bukan berarti aku tidak dapat melihat dan mendengar. Dukuh Tanjung sedang terjadi fenomena Alam yang kurasa cukup aneh terjadi belakangan ini, bagaimana tidak? Aku yang penduduk asli Tanjung sudah bergai musim biasa ku alami. Tetapi kali ini sangat berbeda, di luar cuacanya sangat terik namun di dalam rumah rasanya sangat dingin seperti Es, sangking dinginnya sampai terasa ke ubun-ubun dan menusuk tulang, kamu bisa bayangkan betapa dinginnya diwaktu malam hari. Seperti dinginnya hati seorang kekasih yang dicampakkan oleh kekasihnya, terkadang rindu yang menyakitkan itu bukan karena orangnya tetapi kenangan saat bersamanya.
Sore ini, di Bukit Tanjung, aku berdiri di antara desir angin Pegunungan Muria. "Sore yang indah," bisikku pelan. Namun, kali ini keindahan itu terasa berbeda. Lima hari lalu, aku melihat sosok itu seorang pria yang berdiri tegak dengan sorot mata yang tajam, tak banyak bicara, namun setiap katanya mampu menyentuh jiwa. Di luar, mungkin aku tampak tenang, namun di dalam kepalaku, badai emosi tengah bergejolak.
Jika memang takdir menuliskan garis pertemuan kita, maka aku akan memberikan hatiku seutuhnya, aku tidak menunut banyak hal cukup sederhana asal ada niat yang tulus dan kejujuran didalamnya itu sudah cukup. Terlepas nanti apa kata orang-orang, aku tidak peduli. Terkadang pria merasa harus terlihat kuat dan sempurna di depan wanita, padahal sebenarnya wanita sering kali jauh lebih siap menghadapi kenyataan pahit asalkan ada kejujuran. Kini, aku sampai pada titik di mana keselarasan itu tidak lagi kutemukan. Jika jalan kita memang tidak lagi satu arah, maka izinkan aku untuk melangkah pergi. Aku akan membiarkan tempat ini, kenangan ini, dan segala tentangmu, menjadi bagian dari masa lalu yang terkubur rapi. Aku telah menunaikan baktiku dalam mencinta, dan kini, saatnya untuk benar-benar pulang ke diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar