CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#7
Sinar matahari sudah cukup tinggi saat aku terbangun,waktu menunjukkan pukul 08.15 karena hari ini libur, tak ada yang perlu diburu-buru, bahkan untuk sekadar beranjak dari kasur. Aku menggeliat pelan, meraih handuk yang tergantung di balik pintu, lalu melangkah menuju kamar mandi. Pagi itu terasa begitu biasa begitu tenang, hingga aku sama sekali tidak menyadari bahwa hapeku dipenuhi panggilan tak terjawab rupanya dari pria asing itu 'Arief' saat aku menyisir rambut tiba-tiba hapeku kembali berdering lagi.
"Hallo" ucapku.
"Hai, Nayla kenapa kamu lama sekali mengangkat teleponku?"
"Aku lagi mandi"
"Cepat lah keluar aku sudah menunggumu"
"Ha, apa?"
Tak lama kemudian dia mengalihkan panggilan itu ke video call, dia memperlihatkan susana dilokasi itu, tak kusangka dia beneran nekat datang untuk menemuiku. Dan dari mana dia tahu lokasi itu? Karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang sebelumnya tidak aku kenal, maka aku tidak sembarangan membawanya kerumah.
"Baiklah tetap disitu, nanti aku hubungi lagi" ucapku.
Aku diam-diam menyelinap keluar rumah, agar tidak ketahuan anakku. Karena di depan SD Negeri 03 memang letaknya tidak jauh dari rumahku, dan lokasi itu berada persimpangan jalan. Tentu saja akan ramai orang berlalu-lalang, tidak mungkin juga aku menemuinya disitu, lalu aku tutup teleponya. Saat aku melangkahkan kaki, ada rasa takut serta khawatir di dalam hatiku. Jantungku berdegup kencang saat aku melihat sosok pria tinggi itu tepat berada di depan sekolah SD Negeri 03 dari kejauhan. Aku berhenti sejenak, mengumpulkan sisa-sisa nyali yang sempat tercerai-berai. Dia benar-benar ada di sana, nyata, dan kini aku harus menghadapi realita yang selama ini kucoba hindari. Lalu aku menghubunginya lagi lewat WA:
"Jangan disitu, banyak orang lewat, aku tunggu kamu di ujung jalan, kamu putar balik lah ikuti jalan itu lalu belok kiri"
Aku sengaja mengarahkannya ke tempat yang agak sepi agar tidak ada orang lain melihatku, tak lama kemudian aku mendengar derungan suara motor. Sosok pria tinggi dengan kulit sawo matang menatapku dengan tajam, hatiku berdegub kencang ketika dia mulai datang menghampiriku.
"Hai, Nayla ya?"
Aku hanya menganggukkan kepalaku, lalu aku duduk bersamanya diantara rumput-rumput ilalang di tepi jalan.
"Mas Arief" ucapku
"Ya"
"Emmm,,, mas kenapa kamu bisa tahu kalau aku orang sini?"
"Kamu sendiri yang menuntunku kesini"
"Hah! Maksudnya?"
"Aku sudah lama mengikuti berbagai akun Sosial Mediamu, aku selalu memantau aktifitasmu ada satu foto unggahan mu yang menampilkan lokasi ini. Dan ada pula foto yang lokasinya sama, jadi aku pikir rumahmu pasti tidak jauh-jauh dari sini kan?"
Dia mengatakan hal itu sambil tersenyum tipis, menatapku dengan tajam. Belum sempat aku membalas percakapannya tiba-tiba dia kembali metapku dengan tajam sambil berucap.
"Kita memang tidak saling mengenal, sama sekali belum pernah bertemu apa lagi saling berjabat tangan. Terimakasih sudah menuntun langkahku untuk datang kesini, aku datang memenuhi panggilan jiwamu, aku melihat jiwa yang terbelenggu didalam dirimu. Ah, sudah lah aku tidak ingin sok tahu. Dan aku juga tidak ingin berlama-lama disini, sebaiknya aku pamit pulang dulu sebelum warga melihatku. Kamu juga cepat lah pulang aku tidak ingin orang lain melihatmu juga. Kalau begitu aku pulang dulu, lain kali kalau ada kesempatan kita bertemu lagi"
Aku hanya menganggukan kepala, duduk tertegun sambil memperhatikan laju motornya yang perlahan-lahan semakin menjauh dari pandanganku, sambil merenungi perkataannya. Di sisi lain ada perasaan aneh didalam diriku, tidak biasanya aku seperti ini. Rasa yang tidak bisa kuterjemahkan sendiri, kadang rasa itu membuatku senang dan tertawa sendiri, kadang rasa itu juga membuatku sedih dan menangis.
Komentar
Posting Komentar