CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#11
Pagi itu aku berencana pergi jalan-jalan kepantai untuk menghilangkan kejenuhan, karena aku terlalu lama berdiam diri dirumah tidak ada aktifitas yang membuatku disibukan oleh waktu. Pagi menjelang siang, dan siang mulai menunjukan bahwa kesenangan hari ini harus berkahir dengan menunjukkan sinarnya yang mulai kemerah-merahan dan perlahan-lahan mulai meredup, ada setitik harapan didalam hatiku sebelum mentari di senja sore ini benar-benar tenggelam dalam kegelapan.
"Jangankan manusia langitpun akan berubah jika waktunya tiba, begitu pula dengan kehidupanku jika waktunya tiba kebahagian itu akan menjeputku dengan sendirinya"
Sesampainya dirumah aku duduk sejenak menghela nafas, tiba-tiba ada notifikasi satu pesan diterima rupanya dari dia.
"Hai Nayla aku baru saja berpetualang di bukit Tanjung aku menemukan spot yang indah dari bukit itu aku dapat melihat laut Jepara dan PLTU dari bukit ini, aku ingin melihat keindahan apa lagi yang selama ini tidak aku ketahui dibalik Tanjung Pakis Aji ini, aku rasa kau bisa menemaniku lain waktu"
"Aku capek! Aku lelah, aku mau istirahat lagi pula aku tidak punya waktu buat hal-hal yang tidak penting!"
"Ayo lah Nayla, apakah kau akan membiarkanku tersesat di tengah hutan sendirian?"
"Sudah lah aku ingin tidur, tidak ada waktu untuk berbasa-basi"
"Nayla kali ini dengarkan aku sekali lagi, birakanlah Naluri jiwamu yang berkata ikuti kata hatimu, sampai kapan kau akan menyiksa batinmu sendiri"
Yang awalnya badan ku capek, ngantuk, pengen tidur, karena perjalanan pulang dari pantai yang teramat jauh tiba-tiba dapat notifikasi pesan seperti itu. Membuat mataku kembali melebar rasa kantukku hilang berubah menjadi degupan jantung yang berdebar-debar. Kalimat terakhir dari pesan yang dia kirim terasa berdengung hebat ditelingaku seolah gendang telingaku mau pecah! Aku mondar-mandir didalam kamar sambil memikirkan arti dari pesan yang terakhir dia kirim. Apakah benar selama ini aku menyiksa batinku sendiri?
Komentar
Posting Komentar