CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#6


Asap masih mengepul ketika seekor burung jalak melintas di atas langit Dukuh Pakis Aji. Burung pengicau dari (Species sturniday) melayang gagah dengan paruhnya yang kuat, tajam dan lurus. Kakinya yang panjang tertekuk kekar sebanding dengan kedua sayapnya yang mengepak-ngepak. Sorotan matanya lurus tajam seumpanya ia ingin menangkap sebuah mangsa dengan paruhnya di sebuah titik perbukitan. Angin yang berhembus kembali menyalakan api yang membakar rumput-rumput kering dan asap hitam pekat membubung tinggi.Saat itu aku sedang menikmati susana alam disekitaran rumah, saat aku sedang menikmati ke indahan bukit Tanjung tiba-tiba hape ku bergetar satu pesan di terima.

"Share lok tak parani" (Share lok aku jemput) Aku pun membalas pesannya secara singkat. 

Aku: "Maksudnya?"

Arief: "Lah itu? (Sebesar apapun pembuktian keseriusan laki,, adalah datang untuk melamar 😇 "

Aku: "Ah itu kan cuma Story WA"

Arief: "Aku tidak peduli, itu cuma story atau tidak. Pokoknya hari minggu aku kesana"

Aku: "Mau ngapain emang kamu tahu rumahku 😜"

Arief: "Itu hal yang mudah, tunggu saja besok"

​Matahari mulai lingsir ke peraduan, membiaskan warna jingga yang memudar di balik punggung bukit Tanjung. Suasana di rumah yang tadinya terasa tenang, kini berubah menjadi ruang tunggu yang menyesakkan bagi hatiku. Setiap kali hape di atas meja bergetar bahkan hanya karena notifikasi TikToK yang tidak penting jantungku seolah melompat ke tenggorokan.
​Apakah dia benar-benar akan datang? Atau ini hanya sekadar gertakan semata untuk mengecohku? Malam perlahan merangkak naik, membawa hawa dingin pegunungan yang menusuk hingga ke balik jendela kayu kamar. Aku masih terjaga, duduk di tepi kasur dengan pikiran yang berkelabat liar. Jika dia benar-benar datang, apa yang akan kukatakan? Bagaimana jika tetangga melihat ada lelaki asing bertamu di rumah seorang janda? Aku sudah bisa membayangkan bisik-bisik mereka keesokan harinya, mata-mata yang tajam menghakimi, dan gunjingan yang akan menyebar lebih cepat dari api yang membakar rumput kering di bukit tadi siang. ​Ada rasa takut yang nyata, namun anehnya, ada secercah rasa penasaran yang tak bisa kusembunyikan. Aku benci mengakuinya, bahkan pada diriku sendiri bahwa aku menanti jawaban dari kalimatnya yang begitu percaya diri. Gengsi menahan bibirku untuk tidak bertanya lebih lanjut, namun hatiku justru berharap pesan itu bukan sekadar basa-basi. Di tengah sunyi malam Pakis Aji, aku terperangkap di antara dua keinginan yang bertolak belakang berharap dia datang untuk membuktikan keberaniannya, sekaligus berdoa agar ia tidak muncul dan membiarkan hidupku tetap tenang tanpa prasangka orang lain. Ah, mana mungkin lagi pula dia tidak tahu alamat rumahku lebih baik aku tidur dan menengkan pikiranku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#1

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3