CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#9


Semburat awan senja berkilauan terterpa mentari. Warnanya yang putih kemerah-merahan menghiasi angkasa sebelah barat. Sinarnya menerobos awan, membentuk garis-garis lurus, menabrak daun-daun dan pohon-pohon. Dinaungi cahaya yang remang-remang, satu dua orang penduduk Dukuh Tanjung Pakis Aji masih tampak berjalan menuju Musholla, terdengar lantunan puji-pujian kepada sang pencipta alam.

"Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya'udussalam, fahayyina rabbana bissalam, wa-adkhilnal jannata daras salam, tabaarakta rabbana wa ta'aalaita ya dzal jalali wal ikram."

"Ya Allah, Engkaulah keselamatan, dan dari-Mu lah keselamatan, dan kepada-Mu lah keselamatan itu kembali. Maka hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan keselamatan, dan masukkanlah kami ke dalam surga rumah keselamatan. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan."

Mendengar lantunan Sholawat dari balik celah-celah bukit. Suaranya yang menembus diantara celah-celah pepohonan dan perkebunan kopi menggetarkan hatiku, aku menagis tersendu-sendu aku teringat akan masa kecilku dimana aku dikelilingi oleh kebahagian dan kecerian tanpa tuntutan. Tetapi mengapa selama tiga tahun ini enkau tidak mencurahkan rasa kebahagiaan dalam hidupku yang penuh dengan kegelisahan ini? Rupanya dibalik lamunan dan tangisankanku ternyata aku diperhatikan oleh kakekku tanpa kusadari.

"Nduk cah ayu, sing ayu dewe sopo sing gawe awakmu nagis? 

Aku hanya menggelengkan kepalaku tak satupun kata terucap dari bibirku, lalu kakek mendekatiku dan duduk disampingku sembari melanjutkan pembicaraanya.

"Nduk cah ayu: 
Bila engkau mencintainya, itu adalah hal yang bagus buatmu dan dia. Tetapi bila engkau tidak mencintainya, sementara dia mencintaimu. Itu awal yang tidak bagus bagi hubungan kalian nantinya. Nduk, harus lah kau pahami bahwa cinta adalah dasar hidup berumah tangga. Saling mencintai adalah dasar yang paling kuat. Bila hanya seorang yang mencintai? Entah itu kamu atau dia? Tentu dasar itu sangat lah rapuh, bangunan kehidupan rumah tanggamu nantinya juga akan rapuh." 

Malam pun datang dengan gelisah. Dan malam semakin menggelisahkan hatiku, aku sadar bahwa aku tidak memiliki pengalaman tentang Hakikat cinta yang sesungguhnya. Aku sadar bahwa ternyata cinta amatlah pelik, cinta demikian rumit aku kembali meneteskan air mataku. Tadinya aku pikir cukup lah aku membuka hatiku yang baru untuk seseorang, lalu hidupku akan menjadi tenang rupanya cinta tak semudah itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#1

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3