CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#15


Setelah malam dingin menyelimuti keraguan dan ketakutan yang kian menumpuk dipikiranku, pagi hari datang dengan rengekan anakku yang membangunkanku. Aku beranjak, menyiapkan nasi dan susu untuknya. Si kecil yang baru berusia 2,5 tahun itu. Namun, saat aku menyuapinya, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya yang masih polos:

​"Anak-anak yang lain main sama bapaknya? Aku ndak ada?"
Pertanyaan itu menghunjam ulu hatiku. Usianya yang kian bertambah membuatku semakin menakutkan cepat atau lambat, dia pasti akan menuntut jawaban yang selama ini coba kusembunyikan. Peristiwa tiga tahun silam itu masih terasa sangat nyata bagiku, saat dia masih terlalu kecil untuk bisa mengingat rupa sang ayah. Melihat anak-anak seusianya tertawa dalam dekapan ayah mereka membuatku sesak. 

"Tuhan, bagaimana aku harus menghadapi ini?"

​Aku menarik napas panjang, menelan getir yang tertahan di tenggorokan, lalu memaksakan sebuah senyum.
"Shttttt... ayo maem dulu, Dek. Aaa,, Aaa,, Aem. Pinter anak Mama" 

Bisikku lembut sambil menyodorkan suapan berikutnya. 

"Ayah lagi kerja jauh? Nanti kalau Ayah pulang, Adek dibelikan mobil-mobilan tluk oleng."

​"Holeee, tluk oleng!"

"Mimik... mimik..." Sahutnya riang.
Aku menghela napas panjang melihat tawanya. 

"Adek mau minum? Sini, minum dulu."

Kata-kata 'ayah pulang nanti dibelikan mobil-mobilan' meluncur begitu saja dari bibirku, sebuah kebohongan manis yang harus kukatakan berulang kali kepada anakku untuk menutupi rasa sakit di hatiku sendiri selama Tiga tahun. Aku mencoba meniti karir untuk konsisten menjadi Konten Kreator Digital sebagai pendapatanku disela-sela kekosonganku, karena aku sendiri tidak memiliki pekerjaan selain diam diri menjaga anakku dan membantu kedua orangtua ku berkebun dan kesawah. Kadang rasa bosan dan jenuh itu muncul, tidak ada tempat lain selain bukit Tanjung yang ku singgahi saat aku mulai merasa bosan dirumah. Mungkin, postingan-postinganku agak berlebihan karena qoutesnya yang begitu terlalu terbuka terkesan aku seperti sedang mempromosikan diriku sendiri untuk mencari jodoh.

"Jandaaa!!! 23 tahun anak satu"
"Aku tulus tapi...... janda anak satu"

Terdengar agak menggelikan, tapi bukan itu tujuan utamaku melainkan itu adalah tehnik untuk meningkatkan Algoritma agar para Audiens banyak yang Follow dan meninggalkan jejak komentar. Tapi disisi lain aku juga ingin memiliki seseorang yang bisa mendampingiku menerima kebaikan dan keburukanku dimasa lalu, tidak mempermasalahkan statusku sebagai Single Parent. Mengingat usiaku yang tergolong masih sangat muda, banyak sekali pria mengejarku namun aku sulit membedakan antara yang benar-benar tulus dan yang hanya ingin memanfaatkanku disini kamu pasti paham apa yanga aku fikirkan. Tapi ada satu pria semenjak kehadirannya aku merasa ada sesuatu yang berbeda didalam diriku, meskipun sikapku acuh tak acuh padanya dia tidak mudah menyerah. 

Sebab pada akhirnya, aku sadar bahwa tugas terberat bukanlah sekadar bertahan hidup di antara dinginnya pegunungan ini, melainkan menjaga agar harapan anak ku tidak pernah padam. Jika semesta memang mengirim seseorang yang mampu melihat 'rumah' di balik keterasinganku, maka aku akan membuka pintu itu. Bukan untuk mencari pengganti ayah bagi anak ku, melainkan untuk melengkapi kepingan hati yang pernah hancur. Aku tidak lagi takut berjalan sendirian, karena aku tahu, di setiap langkahku, ada cinta yang paling tulus cinta anakku yang selalu memanggilku pulang. Dan mungkin, suatu saat nanti, panggilan itu akan dijawab oleh seseorang yang memang ditakdirkan untuk menetap, bukan sekadar singgah.Tiga tahun berlalu berjuang berdua ya nak meskipun tanpa peran seorang ayah, ibu kuat ibu akan menjadi kedua peran itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#1

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3