CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#13
Hari sudah beranjak siang tidak lama kemudian Arief pamit pulang, kenapa saat dia menepuk bahuku aku merasa bahwa tepukan itu bukan tepukan biasa. Ada rasa yang tertinggal, seolah-olah ia sedang menitipkan sesuatu yang harus ku jaga. Kepergiannya menyisakan tanda tanya yang begitu dalam, saat perlahan-lahan laju sepeda motornya mulai hilang dari pandanganku. Suara mesin motor itu perlahan ditelan kesunyian bukit, meninggalkan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak oleh ruang kosong yang baru saja ia ciptakan. Seolah-olah aku tidak akan pernah melihatnya lagi, lantas apakah dia benar-benar mencintaiku? Jika tidak lalu mengapa dia rela datang jauh-jauh kesini disisi lain, dia tidak pernah menanyakan statusku jika benar dia mencintaiku lantas apa yang harus aku lakukan. Apakah ini yang dinamakan tersesat dalam perasaan sendiri, atau justru aku yang selama ini telah membelenggu jiwaku dalam sangkar yang kubuat sendiri? Aku bingung dengan pikiranku sendiri jika aku tidak memiliki perasaan dengannya lalu untuk apa aku rela menyelinap keluar rumah demi menemuinya di bukit Tanjung?
Sudah saling tahu, sudah saling bertemu, tapi tetap saja ada rasa yang membatasiku. Rasanya seperti ditarik ulur oleh perasaan yang yang membuatku ingin sekali terus berada didekatnya tetapi terkadang rasa inginku terhalang oleh rasa ketakutanku sendiri. Di sepanjang jalan aku terus bertanya-tanya kepada diriku sendiri mengenai perasaanku yang selama ini kupendam. Sepulang dari bukit saat aku tiba didepan rumah tiba-tiba kakak ku berdiri di depan pintu seolah-olah dia sedang menantiku.
"Nayla darimana saja kamu?"
"Emm,,, aku,,, aku,,, hanya keluar sebentar mencari angin"
"Benarkah?"
Kakakku Dara mulai curiga dengan kepergianku, aku tidak ingin suasana ini menjadi semakin rumit! Namun kakaktu tetap bersikeras mencoba untuk membujukku agar akau mau memberitahu yang sebenarnya, nampaknya ia curiga dengan kepergianku.
"Nayla adik ku, duduk lah kemari aku ingin bicara denganmu. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan selama ini jujur lah kamu tidak perlu menutup-nutupinya."
Tiba-tiba kakak ku bicara seperti itu, apakah selama ini kakak ku diam-diam mengetahuinya, jika memang benar darimana dia tahu? Sedangkan selama ini aku tidak pernah bercerita kepada siapapun.
"Nayla jujur lah, apakah kamu mencintainya?"
"Ma,,, ma,,, masud kakak?"
"Nayla jika kau mencintainya dan dia mencintaimu, tanpa melihat status sosialmu dan tidak mempermasalahkannya itu justru bagus karena dia melihatmu sebagai manusia utuh bukan objek semata. Apakah kamu sudah berterus terang mengenai statusmu?"
Apakah aku harus berterus terang kepada kakak ku? Atau aku tetap berpura-pura tidak tahu? Tapi disisi lain sebenarnya aku juga ingin membicarakan hal ini, tapi aku takut jika hal itu akan membuat semua orang rumah tahu.
"Nayla,,, barusan kakak mendapat pesan melaui Messenger dia memberitahu ku seperti ini:
"Assalamualaikum,,, Sugeng siang kak? Kak mangkeh sonten, kulo badhe berangkat teng Jakarta. Kulo nyuwun pamit lan nyuwun Pangestu lantaran panjenengan, mugi kulo diparingi selamet sampai tujuan. Salam kagem Nayla njih kak, sedingi niku kulo melampah-melampah ing meriku amprihe kulo mbok menowo ono bocahe nok njobo, opo lagi nyapu, opo lagi meme jarik. Tapi tak sawang kok omah podo sepi kabeh. Njih pun ngoten mawon, mugi-mugi jenengan tansah pinaringan seger kwarasan, kalis ing nir sambikolo, diadohno soko balak, kanti sehat walafiat tak kurang suatu apapun jua. "Lahayya,,, Minmur,,, Almin,,, Allahu akbar,,, Allahu akbar,,,, Allahu akbar,,,,, Amiiin,,, Amiiin,,, Yaa robbal Aalamiin. Matur suwun 🙏"
"Nayla,,, kamu itu adik yang paling kakak sayangi, jika dia berkata seperti ini itu tadanya dia benar-benar tulus mencintaimu, bukan hanya sekedar mengangumimu lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Komentar
Posting Komentar