CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#5


Pagi itu aku bangun dengan perasaan yang baru hari terus berganti, udara musim kemarau semakin panas mencekik. Lereng-lereng bukit Tanjung retak, daun-daun jati sudah kering berguguran panorama alam dukuh Pakis Aji dan sekitarnya telah memilukan. Kini saatnya aku beranjak pergi melangkahkan kakiku ketempat kerja, melihat pemandangan sekitarku yang kering seolah-olah melukiskan hatiku saat ini. Aku tidak sedang berkhayal tentang kebahagiaan, melainkan mengharapkan sesuatu yang nyata dan pasti akan terwujud namun dunia seolah tidak peduli dengan penantianku. Malam kembali jatuh, membawa serta angin dingin yang merayap masuk ke sela-sela jendela rumah kayu ini. Aku duduk di teras, menatap jalanan desa yang gelap gulita, berharap ada yang memecah keheninganku dimalam yang sepi sesunyi hatiku ini. Aku tertawa getir pada diriku sendiri. ''Apa yang sebenarnya aku tunggu?'' Tapi entah mengapa, di antara sunyinya malam Pakis Aji ini, aku merasa seperti sedang menunggu sebuah jawaban yang tak kunjung tiba. Mungkin benar kata orang, kadang kita tidak menunggu orangnya, tapi menunggu perasaan bahwa kita tidak lagi sendiri. Karena malam semakin dingin kini aku masuk kedalam rumah, saat aku terbaring dikasur tiba-tiba hapeku bergetar satu pesan diterima (WhatsApp) 'Arief' 

Arief: "Jeparaku Nalumsari, maaf baru sempat balas"

Rupanya itu chat dari 'Arief' kala itu dia belum sempat membalasku.

Aku: "Oke"

Arief "Ya"

Aku: "Mas jawab ya, kalu laki lagi kesepian biasanya ngapain sih?"

Arief: "kenapa?"

Aku: "gpp nanya aja"

Arief: "Hmm, mungkin kamu lagi kesepian"

Aku: "Kok tahu" 

Arief: "Ya jelas lah, kamu kan wanita yang pernah bersuami. Biasanya kalau tidur ada yang meluk sambil di puk,,, puk,,,"

Aku: "Ih apaan sih nggak jelas!"

Arief: "Kamu sendiri nggak jelas! Dengan apa yang kamu inginkan :p"

Orang ini benar-benar menyebalkan, tapi entah kenapa aku merasa tenang setelah chat dengannya hatiku merasa tentram. Jika datang suatu hari dimana aku merasa cita-citaku telah patah dan harapanku telah musnah, pastilah hari itu akan menjadi hari terakhir dalam kehidupanku. Tak ada artinya hidup seseorang jika tidak memiliki hati dan tak ada gunanya hati jika tidak memiliki cinta. Cinta sulit dipisahkan dari kehidupan, cinta adalah nafas kehidupan tanpa nafas, yang ada hanya kematian. Cinta mendatangi manusia dengan caranya sendiri, sedangkan umur menterjemahkan cinta dengan ejaannya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#1

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3