CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3
Hari demi hari telah ku lalui, terkadang aku merindukan sosok seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku dan menyangiku beserta buah hatiku. Tapi kadang aku juga mikir hatiku masih sibuk bertanya-tanya saat aku termenung dikamar, tiba-tiba hapeku bergetar satu pesan di WhatsApp dari nomor tidak dikenal begini isinya:
?: "P"
Aku: "Maaf ini siapa:
?: "Ini aku pria biasa aja, yang kamu bilang halah basi!
Aku: "Oh kamu, nama kamu siapa?"
?: "Ya, kamu simpan saja itu nomorku"
Aku: "Iya nama kamu tuh siapa?"
?: "Namaku Arief ya udah besok lagi aku lagi sibuk"
Aku: "Kamu orang mana"
Lagi-lagi aku dibuat kesal olehnya, setiap kali aku sedang serius dia selalu saja suka menghilang. Tidak seperti pria lain yang suka berlama-lama jika aku ladenin, setidaknya aku sudah tahu namanya. Sikapnya yang tidak berusaha menyenangkan hatiku justru membuatku merasa tertantang. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti bukan sedang didekati, melainkan sedang diabaikan dan entah kenapa, itu jauh lebih menarik daripada ribuan rayuan basi yang sering aku dengar.” 'Hoaaaam' aku ngantuk dan aku pengen tidur dulu karena besok masih harus bangun pagi untuk berangkat kerja.
Pagi menjadi siang, sore menjadi malam dan aku pulang kerja 17.30 badanku capek, belum lagi aku harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Mumpung masih sore lebih baik aku selesaikan setrikaan bajuku dan baju anakku dari pada aku galau karena cinta, lebih baik aku galau karena tanggal tua. Hidup sekali aja nggak pernah kebagain adegan romantis sama sekali, nah loh? Cinta lagi cinta lagi, padahal aku benci sekali dengan lambang hati itu menurutku tidak semua masalah itu bisa diselesaikan dengan C-I-N-T-A tapi harus ada tanggung jawab juga. Lebih baik aku fokus memikirkan masa depan anakku, dari pada aku memikirkan cinta yang rumit dan penuh kepalsuan itu. 'Fikirku soal cinta itu'
Hari sudah mulai larut malam anakku sudah tertidur kenapa malam ini aku susah sekali memejamkan mata, kenapa kali ini kau benar-benar merasa sepi sekali tidak seperti biasanya 'hmmm' aneh. Oh iya aku kan sudah punya nomornya si kampret itu 'Arief' coba ah aku WA dia, aku penasaran kenapa dia bisa tahu apa yang aku rasakan saat aku Live di TikTok waktu itu, pahadal aku sama sekali tidak mengenalnya.
Aku: "P"
Arief: "Ya"
Aku: "Mas Arif?"
Afief: "Ya"
Aku: "Lagi apa mas"
Arief: "Ya"
Aku: "Ih, dari tadi ya, ya, ya, mulu bikin kesel"
Arief: "Ya, ada apa tumben-tumbenan WA kesambet setan apa kamu"
Aku: "Eh aku mau tanya"
Arief: "Ya"
Aku: "Tuh kan, iya iya mulu aku serius"
Arief: "Aku juga lagi serius :p"
Aku: "Mas aku mau nanya kok kamu tahu sih dengan apa yang aku rasakan waktu itu, padahal kita belum saling kenal?"
Arief: "Ngapain juga kenal sama kamu, nanti yang ada dibilang BASI"
Aku: "Ya deh iya aku minta maaf, kan sekarang kita sudah saling kenal"
Arief: "Sudah lah, lagian sudah tengah malam ngapain juga kamu belum tidur"
Lagi dan lagi aku selalu dibuat kesal dan penasaran olehnya, tak terasa waktu menunjukkan pukul 00.15 'Hoaaam' tidur dulu ah, besok kerja masih banyak hal yang lebih penting daripada aku penasaran dan mati konyol.
Komentar
Posting Komentar