CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#17
Sore ini, aku membiarkan diriku terbenam di antara ilalang Bukit Tanjung, seiring dengan matahari yang perlahan luruh di ufuk barat. Di sini, di balik kesunyian, aku bertanya pada angin: akankah esok hari masih menyisakan kesempatan bagiku untuk sekadar melihat senyuman itu lagi? Aku sadar, aku bisa dengan mudah memblokir nomor, menghapus jejak percakapan, melenyapkan foto dari galeri, bahkan melangkah pergi menjauh dari tempat ini. Namun, logika tidak pernah punya kuasa atas rasa. Aku mungkin bisa meninggalkan segalanya, tapi tidak dengan kenangan yang telah berakar, dan perasaan yang menolak untuk ikut padam bersama senja. Aku masih ingat betul bagaimana dulu ia begitu gigih mengejarku, memaksaku untuk menemuinya di bukit ini, bahkan saat aku tak berniat sedikit pun. Dulu, aku merasa itu adalah desakan yang melelahkan. Namun kini, di puncak Bukit Tanjung yang sama, aku justru merindukan setiap detiknya. Aku merindukan cara ia menatap, cara ia memaksa. Ke mana perginya dia sekarang? Tidak ada pesan, tidak ada suara. Ia tidak pergi meninggalkanku, aku tahu itu. Ia hanya sedang melangkah memenuhi panggilan jiwanya sebuah perjalanan sunyi untuk membuktikan takdir. Jika memang kami berjodoh, biarlah semesta yang membawanya kembali ke titik ini. Di kejauhan, mungkin ia sedang menatap langit yang sama, dengan kerinduan yang sama, membiarkan keheningan menjadi jembatan bagi kami yang tak lagi bersuara. Kami sama-sama membisu, membiarkan waktu yang menjawab apakah penantian di bukit ini akan berujung pada temu, atau hanya akan menjadi abu di ujung senja. Kini, barulah aku benar-benar mengerti. Mengapa dulu kau begitu bersikeras memaksaku untuk datang ke tempat ini. Ternyata, Bukit Tanjung bukan sekadar pelarianmu dari riuhnya dunia atau tempat untuk sekadar memuja keindahan semesta. Ini adalah pusat energimu. Di sini, di antara desau ilalang yang berbisik, kau tidak sedang menatap senja kau sedang menitipkan rindu untukku. Dan sekarang, aku duduk di sini, menjemput setiap butir rindu yang kau tinggalkan, berharap angin sore ini benar-benar menyampaikannya padamu di sana.
"Mas,,, Aku kangen :')"
Komentar
Posting Komentar