CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#12


Pada esok harinya aku terbangun, ingin sekali rasanya membalas pesan yang dia kirim semalam tapi? Ketika aku sedang berdebat dengan isi kepalaku, tiba-tiba hapeku bergetar satu pesan diterima.

"Bagaimana Nayla apakah hari ini kau bisa menemaniku?

Aku berfikir sejenak, apakah kuterima ajakannya atau tidak disisi lain aku juga merasa jenuh dirumah terus. Aku diam-diam keluar rumah sengaja aku jalan kaki tidak memakai motor, agar orang rumah tidak curiga dengan kepergianku sembari berjalan menuju tempat tersebut aku sambil membalas pesannya. 

"Apakah kamu sudah di situ" 

Tak lama kemudian aku mendapat kiriman berupa foto, rupanya dia sudah menungguku di bukit persimpangan jalan yang menuju rumahku kebetulan persimpangan itu tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah aku sampai di bukit persimpangan jalan itu, aku melihat sosok pria tinggi berdiri tegak sedang mengamati sebuah pemandangan. Tak lama kemudian dia menyapaku aku sempat ngobrol seputar tempat Wisata yang ada di desaku, di tengah-tengah obrolan itu tiba-tiba dia terdiam dan menatapku dengan tajam.

"Nayla kamu pasti alasanku mengajakmu ketempat ini kan? Bukan karena ke indahan tempat ini bukan pula karena aku ingin melihat-lihat keindahan yang belum pernah aku lihat di tempat ini. Jika di tempat ini ada hal yang paling indah, yaitu kamu Nayla. Aku tidak sedang merayumu ini adalah kebenaran hakiki kau berhak mendengarkannya langsung. Rindu yang membawaku kemarin ke tempat ini, ditempat ini pula hatiku berkata bahwa ada hal yang jauh lebih indah dari tempat ini jika aku menyusuri jalanan yang tadi kamu lewati. Aku ikuti naluriku yang berkata awalnya aku berfikir itu hanya perkebunan kopi biasa tapi semakin kakiku jauh melangkah aku menemukan sebuah rumah sepintas aku abaikan tetapi langkah kakiku terasa berat, solah rumah itu menyuruhku berhenti sejenak aku seperti tidak asing dengan rumah itu dan benar saja ternyata rumah itu adalah rumahmu bedasarkan foto yang pernah kau unggah di sosial media" 

Disela-sela pembicaraanya aku sengaja memotong bicaranya.

"Bicaramu seolah-olah kau ingin menyatakan perasaanmu padaku, beri aku satu alasan apa yang membuatmu menyukaiku. Sedangkan selama ini aku merasa kau tidak pernah menunjukan tanda-tanda bahwa kau menyukaiku, bahkan kau sama sekali nampak tidak peduli denganku, bagai mana aku bisa mempercayai semua perkataanmu tadi?" 

"Nayla aku tahu ini mungkin kedengarannya terlalu cepat bagimu, tapi aku juga tidak ingin berlama-lama melihat kesedihan dan kekosongan hati orang yang aku amati dari kejauhan selama ini, meskipun kau pandai menyembunyikan perasaanmu dibalik senyum dan tawamu tapi matamu tidak pernah bisa membohongiku" 

"Aku terdiam dan termangu-mangu kemudian dia menepuk-nepuk bahuku dengan lembut, seolah tepukan itu berkata 'Tenang lah jangan takut aku bersamamu disini' dalam kebisuanku aku berusaha mengucapkan kata meskipun bibirku bergetar. 

"Jika memang benar demikian yang kamu katatan, lalu mengapa aku merasa bahwa cintamu tidak tulus kenapa? 

"Nayla sekali lagi dengarkan kata-kataku ini. Sesunghuhnya aku tidak ingin mengulang harapanku 8 tahun yang lalu. Tetapi aku memiliki kewajiban untuk memberikan kejujuran hatiku padamu, sudah banyak wanita seusiamu dirusak oleh cinta dalam hidup mereka, mereka dirusak cinta karena mereka tidak memahami hakikatnya. Bagi mereka, cinta adalah keindahan itu saja. Mereka lupa bahwa cinta sesungguhnya juga kesucian, cinta itu suci sebab dia bersumber dari Yang Mahasuci. Keindahan tanpa kesucian itulah yang merusak cinta dan mengeluarkannya dari hakikat yang sebenarnya. Setiap yang indah akan menyenangkan, banyak orang lupa bahwa dibalik keindahan terdapat potensi yang merusak. Pandanglah laut yang biru dari atas perbukitan Tanjung ini, pemandangan itu amat indah. Orang lupa bahwa laut tersebut merupakan tempat yang amat mematikan, khususnya bagi mereka yang tidak bisa berenang. Begitu pula demi menikmati keindahan puncak Gunung Muria tepatnya Puncak 29 Natas Angin. Banyak orang rela medakinya, mereka lupa hawa dingin puncak pegunungan Muria dapat membunuhnya. Karena cinta hanya dipahami sebagai keindahan saja, banyak wanita seusiamu tenggelam di dalamnya. Sebagian mereka mudah jatuh cinta, mudah pula menolak cinta. Ketika engkau mudah jatuh cinta percayalah, engkau akan mudah pula patah hati! Aku berharap, ketika cinta menyapamu itu akan jadi awal bagi masa depan kehidupan rumah tanggamu. Untuk itu, engkau harus memastikan terlebih dahulu apakah engkau memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak? Itu lah alasan selama ini dimatamu aku nampak tidak peduli denganmu seolah-olah aku tidak pernah memperhatikanmu, sedangkan aku selalu menjagamu dari kejauhan agar diriku tidak terjebak dengan drama sosial yang kau ciptakan"

Didalam hatiku yang paling dalam aku bertanya, benarkah dia mencintaiku? Apakah cinta akan membuat seseorang berubah? Bukankah cinta seharusnya menyebabkan wajah selalu riang dan bibir selalu menyunggingkan senyum? Tetapi cinta apakah yang tengah aku rasakan sehingga cinta membuat aku merasa takut dan bibirku sulit tersenyum? Lebih baik aku tidak mencintainya, sehingga aku bisa kembali berdamai dengan hatiku sendiri. Lebih baik cinta sirna, sehingga lenyaplah harapanku tentang ke indahan cinta yang selama ini aku dambakan. Oh,,, Tuhan... Benarkah jalan pikiranku ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#1

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#3