Postingan

CERPEN:Hakikat Sebuah Cinta | Part#18

Gambar
Dunia mengenalku sebagai wanita yang pandai tertawa, wanita yang selalu bisa meredam ego dengan "Legowo" yang dipaksakan. Namun, di hati yang paling dalam, aku bukanlah wanita seperti itu. Itu hanyalah kulit luar, sebuah topeng untuk bertahan hidup di tengah drama manusia yang semakin memuakkan. ​Sejujurnya, aku sudah mati rasa dari sekian banyaknya laki-laki yang aku kenal, aku tidak melihat ketulusan dihatinya. Aku telah menutup pintu bagi siapa pun yang datang dengan kemunafikan dan banyaknya drama manusia adalah alasan mengapa aku lebih suka sendiri. Mungkin jika sekilas orang mengenalku sebagai wanita ceria, namun dibalik itu ada luka yang tak seorangpun tahu obatnya. Namun, di Bukit Tanjung ini, dinding pertahananku luruh. Di sini, aku bukan lagi wanita yang harus menampilkan senyum demi apresiasi orang lain. ​Aku hanyalah seonggok jiwa yang lelah, merindukan tepukan di bahu dari sosok yang pernah membawa ketenangan jiwaku dibukit ini. Tapi di tengah kekacau...

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#17

Gambar
​ Sore ini, aku membiarkan diriku terbenam di antara ilalang Bukit Tanjung, seiring dengan matahari yang perlahan luruh di ufuk barat. Di sini, di balik kesunyian, aku bertanya pada angin: akankah esok hari masih menyisakan kesempatan bagiku untuk sekadar melihat senyuman itu lagi?  ​Aku sadar, aku bisa dengan mudah memblokir nomor, menghapus jejak percakapan, melenyapkan foto dari galeri, bahkan melangkah pergi menjauh dari tempat ini. Namun, logika tidak pernah punya kuasa atas rasa. Aku mungkin bisa meninggalkan segalanya, tapi tidak dengan kenangan yang telah berakar, dan perasaan yang menolak untuk ikut padam bersama senja.  ​Aku masih ingat betul bagaimana dulu ia begitu gigih mengejarku, memaksaku untuk menemuinya di bukit ini, bahkan saat aku tak berniat sedikit pun. Dulu, aku merasa itu adalah desakan yang melelahkan. Namun kini, di puncak Bukit Tanjung yang sama, aku justru merindukan setiap detiknya. Aku merindukan cara ia menatap, cara ia memaksa. ...

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#16

Gambar
Aku tidak buta dan aku tidak tuli, bukan berarti aku tidak dapat melihat dan mendengar. Dukuh Tanjung sedang terjadi fenomena Alam yang kurasa cukup aneh terjadi belakangan ini, bagaimana tidak? Aku yang penduduk asli Tanjung sudah bergai musim biasa ku alami. Tetapi kali ini sangat berbeda, di luar cuacanya sangat terik namun di dalam rumah rasanya sangat dingin seperti Es, sangking dinginnya sampai terasa ke ubun-ubun dan menusuk tulang, kamu bisa bayangkan betapa dinginnya diwaktu malam hari. Seperti dinginnya hati seorang kekasih yang dicampakkan oleh kekasihnya, terkadang rindu yang menyakitkan itu bukan karena orangnya tetapi kenangan saat bersamanya.  Sore ini, di Bukit Tanjung, aku berdiri di antara desir angin Pegunungan Muria. "Sore yang indah," bisikku pelan. Namun, kali ini keindahan itu terasa berbeda. Lima hari lalu, aku melihat sosok itu seorang pria yang berdiri tegak dengan sorot mata yang tajam, tak banyak bicara, namun setiap katanya mampu menye...

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#15

Gambar
Setelah malam dingin menyelimuti keraguan dan ketakutan yang kian menumpuk dipikiranku, pagi hari datang dengan rengekan anakku yang membangunkanku. Aku beranjak, menyiapkan nasi dan susu untuknya. Si kecil yang baru berusia 2,5 tahun itu. Namun, saat aku menyuapinya, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya yang masih polos: ​"Anak-anak yang lain main sama bapaknya? Aku ndak ada?" ​ Pertanyaan itu menghunjam ulu hatiku. Usianya yang kian bertambah membuatku semakin menakutkan cepat atau lambat, dia pasti akan menuntut jawaban yang selama ini coba kusembunyikan. Peristiwa tiga tahun silam itu masih terasa sangat nyata bagiku, saat dia masih terlalu kecil untuk bisa mengingat rupa sang ayah. Melihat anak-anak seusianya tertawa dalam dekapan ayah mereka membuatku sesak.  "Tuhan, bagaimana aku harus menghadapi ini?" ​Aku menarik napas panjang, menelan getir yang tertahan di tenggorokan, lalu memaksakan sebuah senyum. ​ "Shttttt... ayo maem ...

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#14

Gambar
Aku bingung harus bilang apa tetapi melihat isi pesan itu? Nampaknya ia tidak sedang bermain-main dengan perasaanku, pantas saja aku merasa seolah-olah aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Dan tepukan dibahu ku itu seakan-akan ada yang sedang ia titipkan kepadaku dan harus kujaga, wajar saja dia bersikeras ingin sekali menemui ku dan berterus terang mengenai perasaannya padaku, rupanya pertemuan dibukit Tanjung itu adalah pertemuan untuk yang terkahir kalinya. "Kak janji ya kakak adalah orang pertama yang mengetahui hal ini, jangan sampai kak Dira juga tahu. Sebenarnya aku sendiri juga memiliki perasan yang tidak bisa kusembunyikan didalam diriku sendiri, kak menurut kakak Cinta yang sesungguhnya itu seperti apa kak aku takut jika yang aku rasakan ini adalah emosi sesaat." "Nayla,,, dengarkan ini baik-baik! Jika kamu suka dengan seseorang karena dia baik kepadamu, itu bukan Cinta tapi rasa berterimakasih. Jika kamu suka dengan seseorang karena dia mahir mel...

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#13

Gambar
Hari sudah beranjak siang tidak lama kemudian Arief pamit pulang, kenapa saat dia menepuk bahuku aku merasa bahwa tepukan itu bukan tepukan biasa. Ada rasa yang tertinggal, seolah-olah ia sedang menitipkan sesuatu yang harus ku jaga. Kepergiannya menyisakan tanda tanya yang begitu dalam, saat perlahan-lahan laju sepeda motornya mulai hilang dari pandanganku. Suara mesin motor itu perlahan ditelan kesunyian bukit, meninggalkan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak oleh ruang kosong yang baru saja ia ciptakan. Seolah-olah aku tidak akan pernah melihatnya lagi, lantas apakah dia benar-benar mencintaiku? Jika tidak lalu mengapa dia rela datang jauh-jauh kesini disisi lain, dia tidak pernah menanyakan statusku jika benar dia mencintaiku lantas apa yang harus aku lakukan. Apakah ini yang dinamakan tersesat dalam perasaan sendiri, atau justru aku yang selama ini telah membelenggu jiwaku dalam sangkar yang kubuat sendiri? Aku bingung dengan pikiranku sendiri jika aku tidak memiliki pe...

CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#12

Gambar
Pada esok harinya aku terbangun, ingin sekali rasanya membalas pesan yang dia kirim semalam tapi? Ketika aku sedang berdebat dengan isi kepalaku, tiba-tiba hapeku bergetar satu pesan diterima. "Bagaimana Nayla apakah hari ini kau bisa menemaniku? Aku berfikir sejenak, apakah kuterima ajakannya atau tidak disisi lain aku juga merasa jenuh dirumah terus. Aku diam-diam keluar rumah sengaja aku jalan kaki tidak memakai motor, agar orang rumah tidak curiga dengan kepergianku sembari berjalan menuju tempat tersebut aku sambil membalas pesannya.  "Apakah kamu sudah di situ"  Tak lama kemudian aku mendapat kiriman berupa foto, rupanya dia sudah menungguku di bukit persimpangan jalan yang menuju rumahku kebetulan persimpangan itu tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah aku sampai di bukit persimpangan jalan itu, aku melihat sosok pria tinggi berdiri tegak sedang mengamati sebuah pemandangan. Tak lama kemudian dia menyapaku aku sempat ngobrol seputar tempat Wisata yan...