CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#19
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tanggal 1 Agustus 2026 terpampang di kalender dinding rumahku. Retakan-retakan di dinding tua ini seolah melukiskan benang-benang takdir kehidupan, menjadi saksi betapa berusianya hunian yang kutinggali bersama keluarga kecilku. Namun entah mengapa, bagi jiwaku sendiri, waktu justru terasa berjalan amat lambat. Aku seperti terus melangkah sendirian tanpa arah dan tujuan yang jelas, seolah penderitaan batin ini takkan pernah menemukan muaranya.
Begitupun tentang dia, sosok yang beberapa hari terakhir ini sangat kurindukan. Sikapku yang angkuh dan cenderung ketus mungkin sudah cukup untuk membuat pria lain menyerah dan berhenti mendekat. Tapi dia berbeda. Sikapnya tetap tenang dan penuh wibawa, ia begitu sabar menghadapi sikapku yang cenderung cuek dan angkuh. Namun, mengapa malam ini terasa begitu hening? Tak ada satupun bisikan suara alam. Nyanyian jangkrik hingga tarian kunang-kunang yang biasa menghiasi halaman depan rumah pun lenyap, seolah mereka tak sudi menyapaku. Saat aku termenung di teras depan rumah sambil menatap rembulan, awan hitam perlahan bergerak menutupinya. Seakan sang rembulan pun enggan menatapku.
"Mas... kamu yang dulu di mana? Kenapa kau tiba-tiba ikut menghilang? Apakah kau sudah lelah denganku?" gumamku dalam hati yang penuh harap.
Saat langkahku berbalik hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba angin malam berembus sejuk. Usapannya terasa hangat, seolah sedang mendekap semua luka dan rasa sepiku. Satu dua ekor kunang-kunang mulai bermunculan, menari-nari di atas rumput ilalang. Perlahan namun pasti, simfoni alam kembali berbunyi dari setiap sudut halaman. Jangkrik mengkerik nyaring, suara burung cabak terdengar bersautan di langit malam, dan rembulan pun kembali memancarkan cahayanya yang terang benderang. Saat aku terbaring di dalam kamar tiba-tiba aku mengingat semual hal yang pernah ku jalani bersamanya, aku teringat akan senyum manis bibirnya dan cara ia menyapaku dengan lembut. Tak terasa air mata membahasi kedua pipiku, meskipun diluar aku terlihat kaku dan dingin tapi ia seakan-akan tak pernah melihatku seperti itu.
Saat aku terbangun dari tidurku, hatiku tergerak ingin sekali rasanya aku ke bukit Tanjung seperti ada yang menuntun hatiku. Aku bangun dan melangkahkah kaki kecilku ke arah Bukit Tanjung bersama buah hatiku, saat dalam perjalanan setiap langkah kecilku diiringi oleh suara dua burung kutilang yang sedang bertengger diatas ranting pohon seoalah dia sedang memamerkan kemesrahan didepan mataku.
Saat tiba di Bukit Tanjung aku berdiri menghadap ke arah bukit yang berada disisi lain, angin pagi menghembus lembut menerpa wajahku seolah aku merasakan kedirannya disini. Ada rasa benci dan rindu yang menyelimuti hatiku, aku sendiri bingung dengan apa yang aku rasakan terkadang aku ingin marah dan kadang pula aku juga ingin menangis karenanya.
"Mas,,, Tetaplah menjadi sosok yang menyapaku dengan ketulusan yang tenang, seperti embun pagi yang menyejukkan hati yang sedang terbakar."
Komentar
Posting Komentar