CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#20
"Sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan jatuh juga. Betapapun mahirnya seseorang menyembunyikan perasaan atau berpura-pura serba bisa, suatu saat batas mampuan itu akan terlihat juga. Tidak ada manusia yang sempurna, dan pasti ada kalanya kita berbuat khilaf."
Begitupun dengan apa yang terjadi padaku saat ini. Beberapa hari yang lalu aku membeli sebuah ponsel iPhone 7 Plus tipe yang sebenarnya sudah cukup usang. Entah karena ketidaktahuanku, atau sekedar terbawa godaan nama besar mereknya. Di era sekarang, iPhone 7 Plus secara objektif sudah sangat ketinggalan zaman (outdated) update iOS sudah terhenti, baterainya boros, cepat panas, dan performanya keteteran untuk aplikasi masa kini. Bagi siapapun yang paham gadget, membeli tipe ini adalah keputusan buruk. Dan ini adalah keputusan terburukku, mengapa disaat kondisi seperti ini aku yang notabenya hidup seorang diri yang seharusnya mengutamakan kebutuhan hidup malah membeli hape ini. Alih-alih kameranya nya bagus dan video rekamannya stabil, justru disini aku merasa kecele. Ditambah lagi aku berlangganan Meta Verified yang tiap bulannya akan ditagih, setelah aku pikir-pikir dengan pertimbangan yang matang akhirnya aku memilih untuk menjualnya lagi karena kondisiku saat ini sedang tidak stabil terutama dari segi finansialku yang membuatku pusing. Dan ini lah awal dia hadir kembali didalam hidupku, seseorang yang membuat hidupku resah tapi tak jarang ia membuat jiwaku merasa tenang. Saat aku memosting hapeku tiba-tiba aku mendapat pesan Messenger darinya, menanyakan harga ponselku. Ada rasa segan, tapi entah mengapa aku tak bisa berpura-pura di hadapannya. Ketika dia menawarkan bantuan dan menilaiku, dengan begitu tenang.
"Mok dol piro hapemu"
"Hee tukunen"
"Iku hape olehmu tuku kae, opo hapemu sing lawas."
"Lagk IP 7+"
"IP 7+ angel dodolane nek wong ora butuh hape tenan, lah ngopo mok dol"
"Bosen"
"Nek android ngono yo wani nututi aku, ben di enggo mak'e q."
"Ok"
"Gabut tenan lo mpane..."
"Spo a Lebih ke poseng si ora gabut"
"Lapo tah poseng, marai mumet."
"Rande dwet Utang 1jt🤣"
"Wes rasah poseng, poseng, sesok do jajan es momoyo."
"Ws tau rono"
"Yo durung no. Aku reti teko postingan tiktokmu, mulakno aku ngejak koe ben aku reti."
"Ouh"
"Engko bengi, opo sesok... mumpung ready..."
"Ratau Metu Karo lanangan eg Moh a"
"Ya, malah apik kui, jagani awakmu. Disisi lain ya jagani omongane tonggo sing pedes koyok merico."
"Ya"
"Oke, wes ndang mangano sing wareg ben ra poseng. Sok nek wes mengkis meskis ae tak sililihi sejuta 🤣"
"NK ws matek"
"Husss,,, ora ilok. Nek matek mesakke Farhan nggak duwe mamak piye?"
"Melu a"
"Melu ngubur 😒 Ojo ngono, nggak baik."
Jawabannya yang mendukung keputusanku justru membuatku merasa dihormati dan dipahami secara utuh sebagai seorang wanita. Ucapan ketusku menunjukkan betapa lelahnya jiwaku menghadapi beban hidup. Itu adalah bentuk keputusasaan tipis yang kusamarkan dengan humor gelap. Namun kehadirannya yang mengingatkanku tentang sosok anakku (Farhan) dan menyuruhku makan dengan tenang justru mengembalikanku ke realita dengan lembut. Mengapa ia sebegitu tenang menghadapi sikapku, sementara aku sendiri tidak bisa mengendalikan diriku sendiri?
''Ya Allah jika masih ada jatah bagiku, kesempatan bagiku untuk menemukan pendamping, Ya Allah berikanlah dia. Ya Allah jika memang dia jodohku, cocok denganku, maka mudahkanlah, kalau tidak jauhkanlah.''
Komentar
Posting Komentar