CERPEN: Hakikat Sebuah Cinta | Part#13
Hari sudah beranjak siang tidak lama kemudian Arief pamit pulang, kenapa saat dia menepuk bahuku aku merasa bahwa tepukan itu bukan tepukan biasa. Ada rasa yang tertinggal, seolah-olah ia sedang menitipkan sesuatu yang harus ku jaga. Kepergiannya menyisakan tanda tanya yang begitu dalam, saat perlahan-lahan laju sepeda motornya mulai hilang dari pandanganku. Suara mesin motor itu perlahan ditelan kesunyian bukit, meninggalkan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak oleh ruang kosong yang baru saja ia ciptakan. Seolah-olah aku tidak akan pernah melihatnya lagi, lantas apakah dia benar-benar mencintaiku? Jika tidak lalu mengapa dia rela datang jauh-jauh kesini disisi lain, dia tidak pernah menanyakan statusku jika benar dia mencintaiku lantas apa yang harus aku lakukan. Apakah ini yang dinamakan tersesat dalam perasaan sendiri, atau justru aku yang selama ini telah membelenggu jiwaku dalam sangkar yang kubuat sendiri? Aku bingung dengan pikiranku sendiri jika aku tidak memiliki pe...